Rabu, 04 Agustus 2010

Yesus dan Perempuan Samaria


4:5
Yohanes 4:4-14
Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah
yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
4:6Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia
duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
4:7Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus
kepadanya:
"Berilah Aku minum."
4:8Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
4:9Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang
Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak
bergaul dengan orang Samaria.)
4:10Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan
siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah
meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
4:11Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur
ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
4:12Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur
ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta
anak-anaknya dan ternaknya?"
4:13Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
4:14tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan
haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya,
akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai
kepada hidup yang kekal."




1. Waktu percakapan
Ayat 6 dalam terjemahan lainnya:
TB : Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena
itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.


ên {ADA} de {DAN} ekei {DISITU} pêgê {SUMUR} tou iakôb {YAKUB}
o oun {LALU} iêsous {YESUS} kekopiakôs {(yang) MERASA LETIH}
ek {KARENA} tês odoiporias {PERJALANAN} ekathezeto {DUDUK}
outôs {SAJA} epi {DEKAT} tê pêgê {SUMUR} ôra {JAM} ên ôsei {KIRA-KIRA}
ektê {KE-ENAM}


Alkitab terjemahan bahasa Indonesia tidak menyediakan terjemahan harfiah
untuk ayat 6 diatas, namun dengan tafsiran yang menggunakan ukuran jam
Yahudi.

Ayat diatas mempunyai 2 tafsiran:

- Penafsir pertama mengatakan, dengan menggunakan pembagian waktu ala
Yahudi maka jam ke-enam itu adalah jam 12siang (jadi saat panas matahari
terik, sehingga mungkin cocok dengan keadaan Yesus yang sedang merasa
haus dalam perjalananNya itu).
- Penafsir kedua mengatakan bahwa itu adalah jam ke-enam menurut pembagian
waktu Romawi, sehingga jam ke-enam tersebut adalah jam 6 sore (bandingkan
dengan Yohanes 19:14, dimana Yohanes menggunakan pembagian waktu ala
Romawi, bandingkan pula dengan Yohanes 1:39; 4:6, 52). Kebiasaan menimba
air di tanah Palestina dilakukan pada pagi dan sore hari, tidak dilakukan tengah
hari. Maka ketika Yesus Kristus duduk di sumur Yakub, adalah pada jam enam
sore, bukan jam dua belas siang seperti yang diterjemahkan dalam Alkitab
terjemahan Bahasa Indonesia.

2. Dialog yang unik
Ayat 7, ada hal yang menarik dalam diri perempuan Samaria ini untuk dicermati.
Kebiasaan mengambil air di kalangan perempuan, biasanya dilakukan dengan
cara berkelompok. Namun perempuan ini mengambil air sendirian (ini
memberikan kemungkinan perempuan ini dikucilkan kaumnya, karena gaya
hidupnya, bandingkan dengan Yohanes 4:18). Tuhan Yesus menyuruh murid-
muridNya pergi membeli makanan, mengapa tidak sebagian murid saja yang
pergi membeli makanan, sehingga Ia tidak sendirian pula disitu. Yesus yang
adalah Allah yang Mahatahu, mengetahui apa yang akan terjadi, dan misiNya
adalah untuk mengabarkan 'kabar baik' kepada jiwa-jiwa yang terhilang. Bisa
dibayangkan apabila Yesus bersama 12 muridNya, sehingga ada rombongan
13 orang Yahudi ada di sekitar sumur itu, hal demikian bisa-saja membuat
perempuan Samaria ini mengurungkan niatnya untuk mengambil air. Dan
selanjutnya tidak akan pernah terjadi dialog penting antara Yesus dan
perempuan Samaria ini.

Perempuan itu datang ke sumur hendak mengambil air. Ketika Yesus meminta
air kepada perempuan Samaria ini (ayat 7) dengan segera perempuan itu
mengetahui bahwa Yesus adalah orang Yahudi, kemungkinan dari logat atau cara-bicara-Nya.
Pembicaraan Yesus dengan Perempuan Samaria ini memberikan 'keunikan' dan
'prasangka' yaitu sex dan ras. Yohanes mencatat jelas ketidak-hadiran murid-
muridNya dalam percakapan ini yang menyatakan, dialog itu adalah unik. Seorang
Rabbi tidak seharusnya berbicara di tempat umum dengan seorang perempuan,
apalagi perempuan ini adalah seorang Samaria.

Ayat 9, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (NIV menterjemahkan
dengan 'tidak dipersatukan'). Contohnya, piring yang setelah dipergunakan oleh
orang Samaria, walaupun sudah dicuci-pun tidak boleh dipakai lagi oleh orang
Yahudi. Sedemikian hebatnya keterpisahan 2 ras ini. Maka dalam kasus ini
seharusnya Yesus tidak menggunakan timba yang sama dengan orang Samaria
untuk mengambil air minum (D Daube, The New Testamen and Rabinic
Judaism
, p 375-382). Sejarah mencatat + 722 sM Israel dikalahkan oleh Asyur
(2 Raja-raja 17). Orang Israel terganggu dengan kawin-campur yang
menghasilkan orang-orang blasteran Samaria. Selanjutnya orang Israel antipati
dengan orang Samaria (2 Raja-Raja 17:26,29) yang dari perkawinan kalangan
yang melakukan kawin campur, melakukan ibadah yang 'blasteran' pula. Ezra
pasal 4, kalangan Samaria membangun Bait Allah sendiri (+ 400 sM) dengan
menggunakan kitab tersendiri (Samaritan Pentateuch, yang sedikit berbeda
dengan Pentateuch Yahudi, misalnya pada Ulangan 27:4, Gunung Ebal menjadi
Gunung Gerizim). Namun, pelayanan Yesus, adalah pelayanan yang menembus
batas-batas ras. Bagi Yesus, baik Samaritanisme maupun Yudaisme perlu
dikoreksi, keduanya perlu diperbaharui.

3. Kepuasan Kebutuhan
Ayat 8-12 Yesus membuka percakapan dengan perempuan itu dengan
menggunakan kebutuhan jasmani-Nya untuk minta minum, perempuan itu mempertanyakan
posisi hubungan kedua ras yang berseberangan. Didalam tanggapanNya,
Yesus kemudian meninggalkan kebutuhanNya sendiri dan menunjukkan bahwa
perempuan itu mempunyai kebutuhan yang lebih mendalam, yaitu kebutuhan
yang dapat dipenuhi oleh Tuhan Yesus Kristus menyatakan dirinya adalah
sumber 'air hidup' (bandingkan dengan Yohanes 7:37-39). Namun perempuan
ini kemudian menjadi bingung sebab pola pikirnya adalah masih tertuju pada
air yang ada dalam sumur itu, dan menganggap Yesus tidak bisa memberinya
air karena Ia tidak membawa timba. Apabila Yesus dapat memberinya air itu,
menurutnya Yesus lebih besar dari Yakub.

Ayat 13-14, Yesus mengutarakan perbedaan air yang menghilangkan haus
untuk sementara dan yang menghilangkan haus secara terus-menerus. Yang
terakhir tentu lebih baik sebab bisa membawa kepada kehidupan yang kekal.
Yesus telah membedakan pekara duniawi dan rohani tentang 'air' ini. Air hidup
yang melimpah (ayat 14b). Dan air hidup itu adalah Roh Kudus (Yohanes 7:39;
Yesaya 44:3; Yoel 2:28 ).

Namun perempuan ini tetap tidak mengerti karena ia hanya membayangkan
kemungkinan ia tidak perlu lagi susah-susah datang ke sumur Yakub itu untuk
menimba air. Kemudian Yesus mengarahkan perempuan itu kepada
kebutuhannya yang lebih pribadi. Ayat 16, Yesus menyuruh perempuan itu
untuk memanggil suaminya. Karena telah melalui introduksi dialog yang baik,
dimana perempuan itu sudah merasa 'tidak dilecehkan' secara ras, perempuan
inipun menjadi 'tidak tersinggung' atau merasa 'dihakimi' karena gaya hidupnya,
ia mengatakan 'aku tidak mempunyai suami', Yesuspun dengan cepat menjawab
"Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah
mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu.
Dalam hal ini engkau berkata benar."
(ayat 17-18 ). Sejarah perkawinan yang
suram dari perempuan ini dibongkar oleh penerobosan Yesus dan pengakuan
perempuan itu sendiri. Mungkin setidaknya ada 5 perceraian terdahulu dan 1
hubungan haram yang dilakukannya sekarang. Pengetahuan Yesus akan latar-
belakang kehidupannya, dan kemampuanNya membaca jiwa, membuat
perempuan
ini takjub. Bagi perempuan ini, seorang lelaki yang sebelumnya ia panggil 'Tuan'
(Yunani, 'Kurie', dari kata 'Kurios' ), kini menurutnya adalah seorang nabi
(Ayat 19).

Seorang yang sangat berdosa (seperti perempuan ini) bisa memberikan respons
yang sangat baik terhadap suatu pengajaran. Orang yang sangat berdosa ini
justru yang sangat memerlukan pertolongan. Berbeda dengan orang yang merasa
dirinya suci, merasa tahu Firman, kadang mereka justru susah sekali menerima
pembukaan pengajaran dari Firman Allah.

4. Air Hidup
* Yohanes 7:37-39
7:37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri
dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!
7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci:
Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."
7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang
percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum
dimuliakan.


Untuk memperoleh air hidup ini, seseorang harus "meminumnya". Tindakan
minum ini bukanlah suatu tindakan sesaat yang satu kali saja, namun suatu
tindakan minum yang bertahap-tahap dan berkali-kali. Kata "minum" ditulis
dalam bahasa Yunani 'pinetô', dalam betuk imperatif masa kini yang berarti
suatu tindakan yang berkesinambungan atau berulang-ulang yang menyatakan
bahwa : Meminum air hidup, menuntut persekutuan terus-menerus dengan
sumbernya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Tidak seorang pun bisa meminum
air hidup apabila hubungannya terputus dengan sumber itu. Orang-orang
seperti itu akan menjadi seperti "mata air yang kering" seperti yang dikatakan
Petrus dalam ayat ini :

* 2 Petrus 2:17
"Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang
dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang
paling dahsyat."


Dalam kasus perempuan Samaria ini, ia telah menerima 'stigma buruk' sebagai
'perempuan yang nggak bener' sehingga iapun tidak memiliki 'teman' sesama
perempuan untuk mengambil air, ke-6 laki-laki yang telah bersamanya mungkin
juga belum memberikannya kepuasan. 'Air Sumur' adalah simbol dari hal-hal
duniawi, yang hanya akan memberi kesegaran sementara. Namun 'Air Hidup'
akan menyegarkan secara terus-menerus yaitu Roh Kudus didalam orang-orang
percaya. Perempuan ini mengalami perubahan segera setelah Yesus berbicara
tentang masalah kehidupan pribadinya. Perubahan sejati adalah tahu akan dosa,
sadar akan dosa dan meninggalkan dosa. Respon perubahan dari diri
perempuan ini memberikannya keberanian untuk memberitakan berita baik
pada orang-orang banyak yang ditulis pada ayat-ayat selanjutnya.

Sebaliknya marilah kita selidiki hati kita sendiri seberapa rohani hati kita?,
dapatkah kita mampu memiliki segala sesuatu yang sifatnya duniawi namun
tidak menjadi duniawi?. Jika diri kita dikuasai oleh daging, maka akan
menimbulkan keinginan-keinginan daging. Sebaliknya jika hidup kita dikuasai
Roh, maka akan menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23). Air hidup
memberikan keselamatan dan kesegaran (kepuasan) rohani. Konsep kekekalan
ini mengokohkan kita sebagai umat percaya.

Seorang pendosa, betapapun buruknya, ia tetap bisa menjadi saluran berkat
keselamatan bagi banyak orang, perempuan Samaria ini sudah membuktikannya.
Dengan air hidup, ia telah dipuaskan, dan kembali pula ia memancarkan
kasih-karunia itu kepada orang-orang lain.


Sumber: copas n edit dari http://sarapanpagi.6.forumer.com/viewtopic.php?p=1546

Semoga bermanfaat buat referensi mengajar d hari minggu, 8 Agustus 2010... tetaaapp semangaat n selamaaat melayanii temans... God Bless Us

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar