Tampilkan postingan dengan label Bahan Pengajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahan Pengajaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2011

Tuhan Yesus adalah Jalan Kebenaran dan Hidup

Tujuan Umum:

ASM percaya bahwa Yesus adalah Jalan untuk datang kepada Allah Bapa.

Tujuan Khusus:

  1. Agar ASM mengetahui bahwa Yesus datang untuk menebus dosa manusia
  2. Agar ASM percaya bahwa Yesus adalah Jalan Kebenaran dan Hidup, sehingga bisa menjadi ahli waris Kerajaan Allah

Markus 12:1-12

Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur

12:1 Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

12:2 Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka.

12:3 Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.

12:4 Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan.

12:5 Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh.

12:6 Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.

12:7 Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.

12:8 Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.

12:9 Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.

12:10 Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru

12:11 hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

12:12 Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

(Matius 21:33-46, Lukas 20:9-19)


Kebun anggur
melambangkan bangsa Israel (Yes. 5:7)

Pagar. Mungkin sebuah pagar batu atau tembok.

Lobang tempat memeras anggur adalah sebuah sumur atau lobang di bawah pemeras anggur untuk menampung sari anggur yang menetes.

Menara yang dimaksudkan merupakan perpaduan dari menara jaga dan tempat penyimpanan.

Para penggarap, di sini dimaksudkan untuk melambangkan para pemimpin religius Israel/ Para pemimpin Yahudi/ahli-ahli Taurat

Yesus mengalamatkan perumpamaan ini kepada imam-imam kepala, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat

Pemilik kebun Anggur adalah Allah

Anak dari Pemilik kebun anggur adalah Yesus

Otoritas hanya pada Yesus

Penguasa biasanya merasa bahwa otoritas mutlak ada di tangannya. Semua orang harus tunduk, tidak boleh menentang otoritas itu. Para pemimpin Yahudi merasa diri berkuasa. Apalagi otoritas yang mereka pegang adalah otoritas religius, sehingga orang tidak berani macam-macam. Menghadapi Yesus, mereka bagai kebakaran jenggot. Bagaimana mungkin ada orang yang bukan kelompok mereka kemudian mencoba mengajarkan kebenaran-kebenaran Tuhan? Bagaimana mungkin seorang yang tidak punya wewenang atas Bait Allah, berani-beraninya mengacaubalaukan perdagangan di Bait Allah? Maka hanya satu hal yang mereka inginkan atas Yesus, yaitu menangkap Dia!

Yesus, yang memahami kemarahan mereka, mengisahkan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Melalui perumpamaan itu, Yesus ingin menegaskan siapa diri-Nya sesungguhnya. Ia ingin memberitahu bahwa Dia diutus Allah dan Dialah Anak Allah. Kedatangan-Nya telah dinubuatkan oleh nabi-nabi. Namun mereka tidak mau percaya, bahkan membinasakan nabi-nabi itu (Mark 12:3-8). Dan ketika Ia datang ke hadapan mereka, mereka tetap tidak mau percaya. Memang ada waktunya mereka tampak berhasil dengan kematian-Nya. Namun batu yang dibuang oleh tukang bangunan itu akan menjadi batu penjuru. Dia akan mati dan kemudian bangkit. Ia akan memperlihatkan otoritas-Nya kembali.

Bicara tentang otoritas, sudahkah kita mengakui otoritas Kristus di dalam diri kita? Atau seperti para pemimpin agama Yahudi, kita masih berebut otoritas dengan Dia? Kita masih terlalu menyukai berbagai hal yang kita lakukan dan miliki di dunia ini. Kita keberatan bila Yesus mau ambil alih dan menguasai hidup kita. Namun ingatlah bahwa Dia telah mati untuk menebus kita dari segala dosa kita, dari segala hal yang membuat kita menjadi raja atas diri kita sendiri. Kembalikanlah otoritas atas hidup Anda ke dalam tangan-Nya, niscaya sukacita kekal akan mengisi hidup Anda.

Karikatur verbal para imam dan ahli Taurat.

Perumpamaan ini didasari oleh nas Yesaya 5 yang menyebut Israel sebagai kebun anggur Allah (Yes. 5:7). Namun, kini yang menjadi pusat perhatian bukanlah kebun anggur itu sendiri, tetapi para penggarap upahan yang mengurus kebun anggur tersebut. Interaksi antara pemilik kebun anggur, para penggarap dan anak kekasih inilah yang menjadi inti dari perumpamaan ini. Ia mengarahkan perhatian para pendengarnya kepada dua hal. Pertama, pemberitahuan tentang kematian Yesus, yang diumpamakan sebagai anak pemilik kebun anggur yang kekasih, yang diutus kepada para penggarap. Kedua, penolakan serta keputusan penghukuman terhadap para pemimpin keagamaan Yahudi yang diumpamakan sebagai para penggarap penyewa yang tidak bertanggung jawab dan jahat. Perumpamaan ini menjadi karikatur yang suram tetapi mengena tentang para pemimpin keagamaan Yahudi zaman Yesus.

Karikatur verbal ini makin lengkap ketika mereka marah dan berusaha menangkap Yesus, tetapi takut kepada orang banyak. Peringatan bagi kita, bahwa selalu ada godaan untuk menyalahgunakan otoritas yang diberikan Allah. Penyalahgunaan adalah penolakan terhadap Allah, yang akan diikuti oleh penghukuman. Kristus diutus dan mati bagi kita. Pementingan diri sendiri adalah penolakan terhadap kedatangan dan pengorbanan-Nya.

( http://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=41&chapter=12&verse=1)

Rabu, 26 Januari 2011

Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Markus 11:1-11)

Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Yoh. 12:12-19)

Makna seruan “Hosana” dan Daun Palem (12:12-13)
Para ahli mengatakan bahwa orang-orang Israel biasa menggunakan daun-daun palem di Bait Allah dalam perayaan Pondok Daun dan mereka sudah menyiapkan sebelumnya dari rumah, kemudian ketika mereka bertemu dengan Yesus mereka melambai-lambaikan daun-daun palem tersebut. Tindakan mereka tersebut menjadi sebuah tanda penghormatan kepada seorang pemenang atau untuk menyambut pahlawan perang yang baru kembali dari pertempuran.

Di dalam pemikiran orang banyak itu, seruan “hosanna” mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan daun palem. Kata הושׁיעה־נא (hôši˓āh-nā) merupakan sebuah bentuk penekanan dari kata perintah “give salvation now” (berikanlah keselamatan sekarang) yang kemudian menjadi sebuah sambutan bahkan pujian. Hal ini mirip dengan perisitwa dalam Mzm 118:25 yang sangat familiar dengan orang Yahudi. Dalam perayaan Pondok Daun, koor Bait Allah akan menyanyikan Mzm 113-118 (Hallel) setiap pagi dan ketika mereka tiba pada Mzm. 118:25 dan mengatakan “Hosanna” maka semua laki-laki (muda dan dewasa) di Bait Allah melambai-lambaikan lulab (melati yang diikatkan dengan daun palem) sambil menyerukan “hosanna” 3 kali. Tindakan ini merupakan sebuah ekspresi dari sukacita atau kemenangan. Sehingga orang-orang Yahudi sudah biasa mengasosiasikan lulab tersebut dengan seruan “hosanna.” Itulah sebabnya mereka secara spontan menyerukan Mzm 118 “diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,” ketika mereka melambai-lambaikan daun palem. Ucapan ini pada awalnya ditujukan kepada para peziarah yang datang ke Bait Allah, namun ucapan ini juga memiliki aplikasi yang khusus kepada Mesias, menurut catatan Midrash dari Mzm 118.

Yesus Menunggangi Seekor Keledai (12:14-15)
Catatan injil sinoptik memberikan keterangan lebih detil mengenai persiapan Yesus masuk ke Yerusalem dan dielu-elukan. Yesus menggunakan keledai dan bukan seekor kuda. Yesus melakukan hal tersebut (naik keledai muda) untuk menggenapi nubuatan Nabi Zakharia (9:9). Kuda adalah simbol dari kekuatan dan keperkasaan dan memiliki asosiasi yang kuat dengan peperangan (bnd. Yes. 31:1–3; 1 Raja 4:26), namun Yesus memilih menggunakan keledai. Selain untuk menggenapkan apa yang dinubuatkan nabi, Yesus sebenarnya menyampaikan pesan kepada orang banyak yang menyambutnya. Ia adalah Mesias tetapi Dia bukanlah mesias yang sesuai dengan harapan bangsa Israel. Yesus tidak akan memimpin bangsa itu untuk melakukan peperangan dan mengusir penjajah dari tanah Israel. Ia datang untuk memberikan keselamatan kepada manusia dan mendamaikan manusia dengan Allah. Yesus adalah utusan Bapa supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Kutipan dari Zak. 9:9 menyebutkan bahwa raja yang darang dengan keledai beban yang muda itu adalah raja yang lemah lembut. Sehingga hal ini semakin menegaskan bahwa wajah Mesias yang datang tidaklah sesuai dengan keinginan orang-orang Yahudi. Jika dihubungkan dengan konteks Zak 9:9, maka kurang lebih apa yang Yesus lakukan ini dapat disimpulkan demikian: (1) Kedatangan raja yang lemah lembut berkaitan dengan penghetian peperangan, dalam arti misi Yesus tidak dapat disamakan atau berjalan bersama dengan gerakan zelot. (2) Kedatangan raja yang lemah lembut berasosiasi dengan proklamasi kedamaian bagi bangsa-bangsa, dan Zakharia mengutip Mzm. 72:8 yang menegaskan janji akan pemerintahannya akan membentang dan meluas ke ujung-ujung bumi. (3) Kehadiran raja yang lemah lembut itu juga berasosiasi dengan darah perjanjian Allah yang akan membebaskan para tawanan (bnd. 1:29, 34; 3:5; 6:35-58; 8:31-34) serta juga berhubungan dengan Paskah dan kematian dari raja yang melayani.

Ketidakmengertian para murid (12:16)
Meskipun murid-murid melihat Yesus dielu-elukan sebagai raja ketika masuk ke Yerusalem, Yohanes mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Mereka baru mengerti bahwa nas Zakharia itu sungguh-sungguh berbicara tentang Kristus. Yohanes memberikan kalimat kunci “setelah Yesus dimuliakan,” barulah mereka mengerti. Bagian ini persis sama dengan peristiwa Yesus ketika Yesus membersihkan Bait Allah (Yoh. 3:22). Pengertian mereka menjadi jelas ketika Kristus sudah dimuliakan. Setelah Yesus dimuliakan murid-murid pun menerima Roh Kudus, sehingga dapat kita simpulkan bahwa titik balik pengertian dan pengenalan murid-murid akan Tuhan adalah kematian, kebangkitan dan Roh Kudus. Sebab Yohanes, merupakan penulis Injil yang paling banyak berbicara tentang Roh Kudus dibandingkan para penulis Injil yang lain. Oleh karena itu peran Roh Kudus untuk membuat orang menjadi percaya kepada Kristus dan firman Allah sangat signifikan dalam Injil Yohanes.

Orang banyak yang percaya kepada Yesus (12:17-19)
Bagian ini menjelaskan bahwa orang banyak yang hadir terbagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama adalah saksi mata kebangkitan Lazarus yang kemungkinan besar datang dari Betania. Golongan kedua adalah orang-orang yang mendengar kesaksian tentang perbuatan Yesus yang membangkitkan Lazarus dari kelompok yang pertama. Catatan ini menyatakan dengan jelas bahwa usaha perlawanan orang-orang Yahudi tidak mampu membuat orang-orang menyangkal bahwa sungguh Yesus adalah Tuhan dan Raja. Padahal para imam-imam kepala dan komplotannya sudah berencana untuk membunuh Lazarus karena dengan kebangkitannya banyak orang yang menjadi percaya kepada Yesus. Di sini Yohanes menegaskan bahwa para orang-orang yang melihat kebangkitan Lazarus adalah “para penginjil” yang membuat kumpulan orang banyak itu datang dan menyerukan “Hosana” kepada Yesus dengan palem-palem yang melambai. Sehingga apa yang dijelaskan di prolog Injil merupakan suatu pola yang konsisten: Signs - Glory - Believe - Saved by Jesus’ death.

Selasa, 10 Agustus 2010

Stefanus yang Martir

Bahan Sermon: 10 Agustus 2010
Untuk Pengajaran Minggu, 15 Agustus 2010

Kisah Para Rasul 6:8-11

6:8Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.

6:9Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini--anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria--bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus,

6:10tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

6:11Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: "Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah."

Stefanus

Santo Stefanus, yang dikenal sebagai Protomartyr (atau martir pertama) dalam Kekristenan, dihormati sebagai seorang santo dalam Gereja Katolik serta Gereja Ortodoks.

Diakon Kristen
Menurut Kisah para Rasul, dalam kurun waktu awal keberadaan jemaat Kristen di Yerusalem (setelah kematian Yesus), Stefanus adalah salah satu dari ketujuh pria, kemungkinan besar seorang Yahudi Helenistis, yang dipilih untuk mengurus distribusi bantuan bagi janda-janda tua dalam komunitas jemaat. (Peranan ini kemudian dikenal sebagai diakon.) Stefanus juga dikenal karena karunia-karunia yang dimilikinya sebagai seorang penginjil (evangelis), mengkhotbahkan ajaran-ajaran Yesus kepada khalayak Yerusalem, termasuk kepada anggota-anggota sinagoga Helenistis.

Kesyahidan
Kisah para Rasul mengisahkan bagaimana Stefanus diadili oleh Sanhedrin dengan dakwaan hujat terhadap Nabi Musa dan Allah (Kis.6:11) serta berkata-kata menentang Bait Allah dan Hukum Taurat (Kis.6:13-14). Hukuman yang diterimanya adalah dirajam sampai mati kira-kira antara tahun 34-35 Masehi oleh sekelompok massa yang marah dipanas-panasi oleh Saulus dari Tarsus, yang kelak dikenal sebagai Santo Paulus (Kis.8:1).

Khotbah terkhir yang disampaikan Stefanus ditujukan sebagai tundingan terhadap kaum Yahudi karena telah membunuh nabi-nabi mereka serta menjadi pembunuh Kristus (Kis.7:52).

Nama Stefanus berasal dari Bahasa Yunani Stephanos, artinya "mahkota", yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Aram menjadi Kelil.

Teofani
Menjelang ajalnya, Stefanus mengalami suatu teofani (penampakan Allah kepada manusia). Teofani yang dialaminya bersifat unik karena dia menyaksikan baik Sang Bapa maupun Sang Putera.

"Aku melihat langit terbuka, dan Anak manusia duduk di sebelah kanan Allah." (Kis. 7:56)
(Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)


Menguasai kebencian.

Ada dua jenis manusia dalam bacaan ini:
(a) Stefanus, orang yang penuh iman dan Roh Kudus serta
(b) orang Yahudi yang penuh dengan kebohongan dan dengki.

Kelompok orang Yahudi ini disebut Libertini, nama lain dari "orang yang merdeka." Tetapi sebenarnya mereka tidak merdeka karena justru mereka adalah orang yang dibelenggu oleh dosa kebencian. Sebaliknya, Stefanus adalah orang yang merdeka untuk menyatakan kebenaran dan untuk tidak membenci.

Kebencian adalah pembunuhan tingkat pertama yang belum direalisasikan. Memang kita belum melakukan apa-apa, namun sesungguhnya kita telah menyusun rancangan jahat dalam benak kita. Karena kebencianlah Kain membunuh Habel, adiknya (Kej. 4:7). Kain menyerah terhadap dosa yang telah mengintipnya dan membunuh Habel, demikian pula kelompok Yahudi ini, mereka pun menyerah terhadap kebencian dan membunuh Stefanus.

Kita tidak bisa menghalau kebencian dengan cara mengusirnya berulangkali. Jangan pusatkan segenap tenaga kita pada usaha membuang kebencian itu; sebaliknya, isilah hati kita dengan firman Tuhan dan mintalah agar Ia memenuhi jiwa kita dengan kasih-Nya. Dengan cara inilah kebencian akan berkurang dan akhirnya hilang. Memang sangat disayangkan karena kelompok Yahudi ini tidak mengisi hatinya dengan firman dan kasih Tuhan; sebaliknya, mereka malah mengisi hati mereka dengan kebohongan.

Renungkan: Hati yang tanpa kasih Allah adalah tanah yang subur untuk kebencian.

http://alkitab.sabda.org/commentary.php

Stefanus. (Bhs. Yun.: kalungan krans).
Salah seorang dari ketujuh petugas yang merawat orang-orang miskin (--> Diakon), yang dipilih oleh para Rasul di Yerusalem (Kis 6:5). Ia berasal dari kalangan helenis. Ia membangkitkan kebencian orang-orang Yahudi (Kis 6:8-12) dan dirajam setelah diproses oleh Mahkamah Agama (7). Paulus membenarkan kematiannya, yang merupakan permulaan sebuah gelombang pengejaran terhadap jemaat di Yerusalem (Kis 8:1; 11:19). Dari sebuah tradisi yang dikenal sejak abad ke-5, maka tempat merajam ~S ada di sebelah utara pintu gerbang Damsyik yang sekarang (---> Ecole Biblique).


Stefanus
Penilik jemaat (Kis 6:1-7).
Dituduh orang-orang Yahudi (Kis 6:8-15).
Pembelanya (Kis 7:1-53).
Dibunuh (Kis 7:54-60; 22:20).

STEFANUS
Disebut pertama : Kis 6:5
Namanya disebut : 7 X
Kitab yang menyebut : Kisah Para Rasul.
Pekerjaan : Diaken dan Penginjil
Tempat kematian : Yerusalem
Keadaan kematian : Mati dilempari batu.
Terakhir disebut : Kis 22:20
Fakta penting : Dia adalah martir yang pertama dari Gereja mula-mula.
Ringkasan :

1. I. Pengaduan dari kaum awam. Kis 6:1
2. II. Konferensi para pemimpin. Kis 6:2
3. III. Dipilih sebagai pengerja. Kis 6:3-4
A. Kedewasaan Stefanus. Kis 6:5a
B. Mujizat. Kis 6:8
C. Fitnah atas Stefanus
1. Siapa mereka. Kis 6:9
2. Apa yang mereka lakukan. Kis 6:11-14
3. Mengapa mereka lakukan. Kis 6:10
D. Kelembutan Stefanus. Kis 6:15
E. Pesan Stefanus. Kis 6:13-14
1. Israel diberkati Allah, pada saat sebelum memiliki Bait Suci yang dibangun oleh Salomo
a. Allah memimpin Abraham masuk Kanaan. Kis 7:2-8
b. Allah melindungi bibit-bibit keturunan di tanah Mesir. Kis 7:9-17
c. Allah membawa keluar Israel dari tanah Mesir. Kis 7:18-36
d. Allah memimpin masuk kembali ke Kanaan. Kis 7:37-48
2. Namun Israel berbalik dari Allah
a. Selama masa Bait Suci yang pertama.
b. Selama masa Bait Suci kedua.
Mereka tidak disunat hati dan telinga, dan selalu menentang Roh Kudus. Kis 7:51-52
F. Kesyahidan Stefanus.
1. Orang-orang yang menganiaya Kis 7:54,57-58
2. Pra-kemuliaan Kis 7:55-56
3. Doanya.
a. Untuk dirinya. Kis 7:59
b. Untuk musuhnya. Kis 7:60a
4. Meninggalnya. Kis 7:60b

STEFANUS
Orang yang paling mencolok di antara ketujuh pelayan dari Kis. 6:5, dan *martir pertama Gereja Kristen. Kadang-kadang disebut *diaken berdasarkan Kis. 6:1-2, walaupun kata itu tidak dipakai untuk dia dalam PB, dan kaitannya dengan jabatan *diaken dalam Gereja kemudian hari pun tidak ada. Pada waktu terjadi perselisihan antara orang Kristen Yahudi yang berbahasa Yunani dan orang Kristen Palestina yang berbahasa Aram mengenai pembagian yang adil dari sumbangan-sumbangan kasih, para rasul mengangkat tujuh orang yang berbahasa Yunani untuk melayani dan mengatur (diakonein, bahasa Yunani) pembagiannya dan *Stefanus adalah seorang di antara mereka. Tetapi, jauh dari melakukan pekerjaan tambahan, Stefanus segera menjadi pemberita Kristen -- walaupun *keduabelas rasul itu mengangkat kelompok *tujuh, supaya mereka sendiri cukup waktu untuk memberitakan firman. Kegiatan aktif Stefanus itu melibatkannya dalam konflik dengan para pemegang kuasa. Rupanya Stefanus tahu bahwa Yesus sebagai *Mesias telah menjadikan Bait Suci dan peribadahannya usang. Stefanus diceritakan membawakan pidato yang menuduh orang Yahudi senantiasa menolak orang orang yang diutus Allah kepada mereka. Maka marahlah orang banyak kepadanya dan menghukum mati dia tanpa pengadilan. Pengarang Kisah Para Rasul menyampaikan cerita kematian Stefanus dengan mengingatkan kematian Yesus, yang mati dengan kata-kata pengampunan di bibir-Nya. Akibat dari perajaman Stefanus itu ialah menyebarnya murid-murid untuk memberitakan Injil di tempat-tempat lain. Peristiwa ini melibatkan Filipus, seorang lagi dari antara kelompok tujuh yang terkenal itu.

KILIKIA
Sebuah provinsi Romawi di bagian tenggara Asia Kecil. *Tarsus, tempat kelahiran Paulus (Kis. 22:3) adalah salah satu kotanya. Paulus melewati daerah ini dua kali (Kis. 15:40-41 dan 18:23).

Kirene
Sebuah koloni atau tempat pemukiman Yunani yang terletak di sebelah pantai Laut Tengah di Afrika Utara. Sekarang namanya: Barka atau Sirenaika. Sejak tahun 75 seb. Mas. menjadi daerah propinsi Romawi. Banyak orang Yahudi tinggal di ~K (1Mak 15:23; Kis 2:10). Mereka mempunyai sebuah sinagoga sendiri di Yerusalem (Kis 6:9). Orang-orang dari ~K mewartakan Injil kepada orang-orang penyembah berhala di Antiokhia (Kis 11:20).
KIRENE
Sebuah kota di Afrika Utara, tanah kelahiran *Simon, yang memikul salib Yesus (Mrk. 15:21). Orang-orang Yahudi dari Kirene mendirikan *sinagoga di Yerusalem (Kis. 2:10). Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang telah dibebaskan, keturunan orang-orang yang telah ditangkap oleh Pompeyus dan dibawa ke Roma pada 63 sM, yang kemudian hari dibebaskan.

Asia
TB- Propinsi Kerajaan Romawi yang terletak di bagian barat dari negara Turki sekarang. Ibukotanya Efesus. Paulus membawa Injil ke sana (bandingkan Kis 19:10).
BIS- Provinsi kerajaan Roma di bagian barat daerah yang kemudian dikenal sebagai Asia Kecil, dan yang sekarang merupakan sebagian dari daerah Turki. Selain tujuh buah kota yang disebut dalam kitab Wahyu Wahy 1:4,11; 2:1-3:22, kota-kota lain di Asia ini yang disebut dalam Perjanjian Baru ialah: Kolose, Hierapolis dan Miletus. Ibukota provinsi Asia ini ialah Efesus.
ASIA
Dalam PB yang dimaksud bukanlah benua Asia, melainkan provinsi Romawi, yang diperintah dari *Efesus, sekarang Turki Barat. Provinsi ini kaya dengan sumber daya dan terdiri dari: *Siria, Misia, *Lidia, dan Karia. *Frigia sebagian masuk Asia, sebagian lain masuk *Galatia. Jika surat Paulus kepada jemaat-jemaat Galatia dialamatkan kepada jemaat-jemaat yang telah dikunjunginya (*Antiokhia, *Ikonium, *Listra dan *Derbe), berarti surat tersebut dikirim ke wilayah selatan provinsi Galatia; namun *Kolose, yang juga dikirimi sebuah surat, berada di Asia, demikian pula ketujuh jemaat dalam Kitab Wahyu.

Sinagoge adalah nama tempat beribadah orang Yahudi.[1] Di dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani: συναγωγή, synagogē), sinagoge memiliki arti berkumpul bersama.[1] Kata tersebut merupakan terjemahan dari kata Ibrani, eda, yang berarti jemaah, sehingga pengertian sinagoge yang sebenarnya bukanlah suatu tempat atau gedung tertentu melainkan persekutuan.[2] Sinagoge, bersama gerakan yudaisme rabinik, memiliki peran penting dalam membentuk pola keagamaan Yahudi hingga kini, khususnya setelah Bait Suci yang menjadi pusat peribadah umat Yahudi hancur pada tahun 70 M.[3] Selain itu, sinagoge juga diduga membawa pengaruh besar terhadap pola ibadah umat Kristen dan Islam melalui penggunaan gereja dan masjid

Rabu, 04 Agustus 2010

Yesus dan Perempuan Samaria


4:5
Yohanes 4:4-14
Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah
yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
4:6Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia
duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
4:7Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus
kepadanya:
"Berilah Aku minum."
4:8Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
4:9Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang
Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak
bergaul dengan orang Samaria.)
4:10Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan
siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah
meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
4:11Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur
ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
4:12Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur
ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta
anak-anaknya dan ternaknya?"
4:13Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
4:14tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan
haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya,
akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai
kepada hidup yang kekal."




1. Waktu percakapan
Ayat 6 dalam terjemahan lainnya:
TB : Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena
itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.


ên {ADA} de {DAN} ekei {DISITU} pêgê {SUMUR} tou iakôb {YAKUB}
o oun {LALU} iêsous {YESUS} kekopiakôs {(yang) MERASA LETIH}
ek {KARENA} tês odoiporias {PERJALANAN} ekathezeto {DUDUK}
outôs {SAJA} epi {DEKAT} tê pêgê {SUMUR} ôra {JAM} ên ôsei {KIRA-KIRA}
ektê {KE-ENAM}


Alkitab terjemahan bahasa Indonesia tidak menyediakan terjemahan harfiah
untuk ayat 6 diatas, namun dengan tafsiran yang menggunakan ukuran jam
Yahudi.

Ayat diatas mempunyai 2 tafsiran:

- Penafsir pertama mengatakan, dengan menggunakan pembagian waktu ala
Yahudi maka jam ke-enam itu adalah jam 12siang (jadi saat panas matahari
terik, sehingga mungkin cocok dengan keadaan Yesus yang sedang merasa
haus dalam perjalananNya itu).
- Penafsir kedua mengatakan bahwa itu adalah jam ke-enam menurut pembagian
waktu Romawi, sehingga jam ke-enam tersebut adalah jam 6 sore (bandingkan
dengan Yohanes 19:14, dimana Yohanes menggunakan pembagian waktu ala
Romawi, bandingkan pula dengan Yohanes 1:39; 4:6, 52). Kebiasaan menimba
air di tanah Palestina dilakukan pada pagi dan sore hari, tidak dilakukan tengah
hari. Maka ketika Yesus Kristus duduk di sumur Yakub, adalah pada jam enam
sore, bukan jam dua belas siang seperti yang diterjemahkan dalam Alkitab
terjemahan Bahasa Indonesia.

2. Dialog yang unik
Ayat 7, ada hal yang menarik dalam diri perempuan Samaria ini untuk dicermati.
Kebiasaan mengambil air di kalangan perempuan, biasanya dilakukan dengan
cara berkelompok. Namun perempuan ini mengambil air sendirian (ini
memberikan kemungkinan perempuan ini dikucilkan kaumnya, karena gaya
hidupnya, bandingkan dengan Yohanes 4:18). Tuhan Yesus menyuruh murid-
muridNya pergi membeli makanan, mengapa tidak sebagian murid saja yang
pergi membeli makanan, sehingga Ia tidak sendirian pula disitu. Yesus yang
adalah Allah yang Mahatahu, mengetahui apa yang akan terjadi, dan misiNya
adalah untuk mengabarkan 'kabar baik' kepada jiwa-jiwa yang terhilang. Bisa
dibayangkan apabila Yesus bersama 12 muridNya, sehingga ada rombongan
13 orang Yahudi ada di sekitar sumur itu, hal demikian bisa-saja membuat
perempuan Samaria ini mengurungkan niatnya untuk mengambil air. Dan
selanjutnya tidak akan pernah terjadi dialog penting antara Yesus dan
perempuan Samaria ini.

Perempuan itu datang ke sumur hendak mengambil air. Ketika Yesus meminta
air kepada perempuan Samaria ini (ayat 7) dengan segera perempuan itu
mengetahui bahwa Yesus adalah orang Yahudi, kemungkinan dari logat atau cara-bicara-Nya.
Pembicaraan Yesus dengan Perempuan Samaria ini memberikan 'keunikan' dan
'prasangka' yaitu sex dan ras. Yohanes mencatat jelas ketidak-hadiran murid-
muridNya dalam percakapan ini yang menyatakan, dialog itu adalah unik. Seorang
Rabbi tidak seharusnya berbicara di tempat umum dengan seorang perempuan,
apalagi perempuan ini adalah seorang Samaria.

Ayat 9, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (NIV menterjemahkan
dengan 'tidak dipersatukan'). Contohnya, piring yang setelah dipergunakan oleh
orang Samaria, walaupun sudah dicuci-pun tidak boleh dipakai lagi oleh orang
Yahudi. Sedemikian hebatnya keterpisahan 2 ras ini. Maka dalam kasus ini
seharusnya Yesus tidak menggunakan timba yang sama dengan orang Samaria
untuk mengambil air minum (D Daube, The New Testamen and Rabinic
Judaism
, p 375-382). Sejarah mencatat + 722 sM Israel dikalahkan oleh Asyur
(2 Raja-raja 17). Orang Israel terganggu dengan kawin-campur yang
menghasilkan orang-orang blasteran Samaria. Selanjutnya orang Israel antipati
dengan orang Samaria (2 Raja-Raja 17:26,29) yang dari perkawinan kalangan
yang melakukan kawin campur, melakukan ibadah yang 'blasteran' pula. Ezra
pasal 4, kalangan Samaria membangun Bait Allah sendiri (+ 400 sM) dengan
menggunakan kitab tersendiri (Samaritan Pentateuch, yang sedikit berbeda
dengan Pentateuch Yahudi, misalnya pada Ulangan 27:4, Gunung Ebal menjadi
Gunung Gerizim). Namun, pelayanan Yesus, adalah pelayanan yang menembus
batas-batas ras. Bagi Yesus, baik Samaritanisme maupun Yudaisme perlu
dikoreksi, keduanya perlu diperbaharui.

3. Kepuasan Kebutuhan
Ayat 8-12 Yesus membuka percakapan dengan perempuan itu dengan
menggunakan kebutuhan jasmani-Nya untuk minta minum, perempuan itu mempertanyakan
posisi hubungan kedua ras yang berseberangan. Didalam tanggapanNya,
Yesus kemudian meninggalkan kebutuhanNya sendiri dan menunjukkan bahwa
perempuan itu mempunyai kebutuhan yang lebih mendalam, yaitu kebutuhan
yang dapat dipenuhi oleh Tuhan Yesus Kristus menyatakan dirinya adalah
sumber 'air hidup' (bandingkan dengan Yohanes 7:37-39). Namun perempuan
ini kemudian menjadi bingung sebab pola pikirnya adalah masih tertuju pada
air yang ada dalam sumur itu, dan menganggap Yesus tidak bisa memberinya
air karena Ia tidak membawa timba. Apabila Yesus dapat memberinya air itu,
menurutnya Yesus lebih besar dari Yakub.

Ayat 13-14, Yesus mengutarakan perbedaan air yang menghilangkan haus
untuk sementara dan yang menghilangkan haus secara terus-menerus. Yang
terakhir tentu lebih baik sebab bisa membawa kepada kehidupan yang kekal.
Yesus telah membedakan pekara duniawi dan rohani tentang 'air' ini. Air hidup
yang melimpah (ayat 14b). Dan air hidup itu adalah Roh Kudus (Yohanes 7:39;
Yesaya 44:3; Yoel 2:28 ).

Namun perempuan ini tetap tidak mengerti karena ia hanya membayangkan
kemungkinan ia tidak perlu lagi susah-susah datang ke sumur Yakub itu untuk
menimba air. Kemudian Yesus mengarahkan perempuan itu kepada
kebutuhannya yang lebih pribadi. Ayat 16, Yesus menyuruh perempuan itu
untuk memanggil suaminya. Karena telah melalui introduksi dialog yang baik,
dimana perempuan itu sudah merasa 'tidak dilecehkan' secara ras, perempuan
inipun menjadi 'tidak tersinggung' atau merasa 'dihakimi' karena gaya hidupnya,
ia mengatakan 'aku tidak mempunyai suami', Yesuspun dengan cepat menjawab
"Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah
mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu.
Dalam hal ini engkau berkata benar."
(ayat 17-18 ). Sejarah perkawinan yang
suram dari perempuan ini dibongkar oleh penerobosan Yesus dan pengakuan
perempuan itu sendiri. Mungkin setidaknya ada 5 perceraian terdahulu dan 1
hubungan haram yang dilakukannya sekarang. Pengetahuan Yesus akan latar-
belakang kehidupannya, dan kemampuanNya membaca jiwa, membuat
perempuan
ini takjub. Bagi perempuan ini, seorang lelaki yang sebelumnya ia panggil 'Tuan'
(Yunani, 'Kurie', dari kata 'Kurios' ), kini menurutnya adalah seorang nabi
(Ayat 19).

Seorang yang sangat berdosa (seperti perempuan ini) bisa memberikan respons
yang sangat baik terhadap suatu pengajaran. Orang yang sangat berdosa ini
justru yang sangat memerlukan pertolongan. Berbeda dengan orang yang merasa
dirinya suci, merasa tahu Firman, kadang mereka justru susah sekali menerima
pembukaan pengajaran dari Firman Allah.

4. Air Hidup
* Yohanes 7:37-39
7:37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri
dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!
7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci:
Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."
7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang
percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum
dimuliakan.


Untuk memperoleh air hidup ini, seseorang harus "meminumnya". Tindakan
minum ini bukanlah suatu tindakan sesaat yang satu kali saja, namun suatu
tindakan minum yang bertahap-tahap dan berkali-kali. Kata "minum" ditulis
dalam bahasa Yunani 'pinetô', dalam betuk imperatif masa kini yang berarti
suatu tindakan yang berkesinambungan atau berulang-ulang yang menyatakan
bahwa : Meminum air hidup, menuntut persekutuan terus-menerus dengan
sumbernya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Tidak seorang pun bisa meminum
air hidup apabila hubungannya terputus dengan sumber itu. Orang-orang
seperti itu akan menjadi seperti "mata air yang kering" seperti yang dikatakan
Petrus dalam ayat ini :

* 2 Petrus 2:17
"Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang
dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang
paling dahsyat."


Dalam kasus perempuan Samaria ini, ia telah menerima 'stigma buruk' sebagai
'perempuan yang nggak bener' sehingga iapun tidak memiliki 'teman' sesama
perempuan untuk mengambil air, ke-6 laki-laki yang telah bersamanya mungkin
juga belum memberikannya kepuasan. 'Air Sumur' adalah simbol dari hal-hal
duniawi, yang hanya akan memberi kesegaran sementara. Namun 'Air Hidup'
akan menyegarkan secara terus-menerus yaitu Roh Kudus didalam orang-orang
percaya. Perempuan ini mengalami perubahan segera setelah Yesus berbicara
tentang masalah kehidupan pribadinya. Perubahan sejati adalah tahu akan dosa,
sadar akan dosa dan meninggalkan dosa. Respon perubahan dari diri
perempuan ini memberikannya keberanian untuk memberitakan berita baik
pada orang-orang banyak yang ditulis pada ayat-ayat selanjutnya.

Sebaliknya marilah kita selidiki hati kita sendiri seberapa rohani hati kita?,
dapatkah kita mampu memiliki segala sesuatu yang sifatnya duniawi namun
tidak menjadi duniawi?. Jika diri kita dikuasai oleh daging, maka akan
menimbulkan keinginan-keinginan daging. Sebaliknya jika hidup kita dikuasai
Roh, maka akan menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23). Air hidup
memberikan keselamatan dan kesegaran (kepuasan) rohani. Konsep kekekalan
ini mengokohkan kita sebagai umat percaya.

Seorang pendosa, betapapun buruknya, ia tetap bisa menjadi saluran berkat
keselamatan bagi banyak orang, perempuan Samaria ini sudah membuktikannya.
Dengan air hidup, ia telah dipuaskan, dan kembali pula ia memancarkan
kasih-karunia itu kepada orang-orang lain.


Sumber: copas n edit dari http://sarapanpagi.6.forumer.com/viewtopic.php?p=1546

Semoga bermanfaat buat referensi mengajar d hari minggu, 8 Agustus 2010... tetaaapp semangaat n selamaaat melayanii temans... God Bless Us